Wednesday, July 13, 2011

BIMA SUCI


Kata guru agama saya, Islam disebarkan masuk ke bumi nusantara dengan jalan damai. Di Jawa ada tokoh yang masyhur dalam proses penyebaran Islam yaitu wali sanga (sembilan wali). Kata guru saya, salah satu cara yang mereka tempuh dalam menyebarkan Islam yaitu melalui akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.
Karena waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, maka saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan akulturasi dan budaya lokal. Beruntung sekali guru agama saya itu orangnya lucu (tidak galak seperti guru matematika), sehingga agama yang menurut pandangan saya begitu rumit menjadi mudah dipahami.
Cerita guru agama saya, Islam di Jawa disebarkan dengan pendekatan budaya. Salah satunya melalui kesenian wayang yang disisipi nilai-nilai Islami. Wayang yang telah menjadi pokok ajaran bagi orang jawa, oleh para wali terutama Sunan Giri, sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dimasukan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, kata guru agama saya, pergelaran wayang, mulai dari A sampai Z mencerminkan sibulisasi ajaran Islam.
Mengingat wayang bukanlah produk kesenian islam, melainkan warisan seni yang mengandung unsur ajaran Hindu-Budha, maka para wali memasukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Sehingga dengan pertunjukan wayang, masyarakat akan terketuk hatinya untuk melaksanakan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Sehingga masyarakat dapat membedakan tindakan yang benar dan salah, pantas dan tidak pantas. Di dalam wayang, manusia juga dapat melihat sejauh mana penyimpangan dilakukan manusia yang diangkat sebagai pemimpin (khalifah). Sejauh mana orang telah meninggalkan “uger-uger” atau petuah etika jawa dari hari ke hari dan seterusnya.


Kata guru agama saya yang tulen Jawa, menceritakan salah satu contoh ajaran moral Islam yang terkandung dalam ceritera wayang dapat kita jumpai pada tokoh Bima dalam lakon ‘Bima Suci’.
Ajaran moral Islam yang terkandung dalam lakon Bima Suci ke dalam empat tahapan, yakni syariat, tharigat, haqiqat dan makrifat. Sementara dalam konsep moral jawa dirumuskan tentang ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa.
Moral Islam maupun moral Jawa keduanya dengan semangat universalitasnya masing-masing sangat menjunjung tinggai spirit pluralitas. Universalitas tidak berarti berada di bawah satu naungan kebenaran relatif yang ekslusif dan adanya truth claim. Melainkan sumber kebenaran tertinggi yang menjadi poin penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Dalam lakon itu hubungan antara moral Islam dengan moral Jawa adalah hubungan hubungan yang bersifat imperatif moral atau saling mewarnai (bukan saling mengklaim paling benar!). Moral Islam dan moral Jawa banyak menjiwai dan mewarnai lakon Bima suci.
Indahnya hubungan itu, sepanjang alur cerita dalam lakon Bima suci tidak ditemui istilah-istilah arab, namun nilai keislamannya tetap cukup kental. Inilah yang menurut guru agama saya, kepandaian para penyebar Islam dalam mentransformasikan nilai-nilai islam ke dalam budaya setempat (lokal).
Namun kini cerita guru agama saya itu tidak berlaku. Karena hukum kebenaran sudah dipaksakan. Orang-orang sudah mengklaim sebagai penjaga kebenaran. Orang yang tidak sealiran dianggap sesat. Orang yang memahami agama dengan cara lain, dibabat! Islam telah menjadi kepentingan pragmatis.


Saya menjadi bingung, apakah guru agama saya yang berbohong, atau sejarah telah berubah? Atau ada yang berupaya keras merubah sejarah itu? Saya tidak tahu apakah Islam yang saya peluk sejak saya lahir itu sebagai ‘partai politik’ atau jalan menuju kebenaran? Apakah saya harus bertanya pada Front Pembela Islam (FPI) atau front-front lainnya, bagaimana cara beragama yang baik? Ah, tidak!
“Bima, ajari saya tentang kebenaran!”@@@
Tulisan :Rakhmat Giryadi

No comments:

Post a Comment