Friday, August 12, 2011

Cara Membaca Huruf Jepang


Dokter, saya sekarat


Siang-siang waktu istirahat, seorang dokter dikejutkan oleh seseorang yang menangis tersedu-sedu sambil berkata "Saya tidak mau mati, Dokter".
Merasa kasihan dengan orang itu, sang dokter merelakan waktu istirahat siangnya. Lalu dokter itu berkata " Ada apa? coba ceritakan masalahmu!"
Lalu dengan tersengguk-sengguk pasien itu berkata, "Dokter, jika saya menyentuh bagian tubuh saya, yang mana saja, saya merasa sakit. Lihat ini dokter!", Kemudian pasien itu menyentuh bagian dadanya dengan tangannya, lalu berteriak kesakitan, menyentuh bagian kepalanya dengan tangannya, kemudian ia berteriak kesakitan lagi, ia terus berteriak ketika ia menyentuh bagian anggota tubuh yang lain dengan tangannya. Pasien itu berkata " Lihat kan Dokter saya sekarat "
Lalu dengan tersenyum dokter itu berkata, " jari tangan kamu patah".

Kegigihan si cadel


Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal di dekat rumahnya.
cadel:"bang, beli nasi goleng satu.
abang:"apa...?" (.....ngeledek.)
cadel:"Nasi Goleng!
abang:"Apaan...?(.....Ngeledek lagi.)
cadel:"Nasi Goleng!!!"
abang:"ohh nasi goleng..." Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal. Sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan "nasi goreng" dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar

Hari ke-2.
Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi
cadel:"bang...,saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!"
abang:"ohh...pake apa?"
cadel:"...pake telol..." Sambil sedih...
Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata "telor" sampai benar.

Hari ke-3.
Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut - turut makan nasi goreng:
cadel:"bang..., beli NASI GORENG, Pake TELOR!!! Bungkus!"
abang:"ceplok atau dadar ?"
cadel:"dadal..."
Dengan spontan.Kembali dia berlatih dengan keras.

Hari ke-4.
Dengan modal 4 hari berlatih lidah hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa ditertawakan.
cadel:"bang...,beli NASI GORENG, Pake TELOR, di DADAR!"
abang:"hebat kamu "del, udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2500 del."
si cadel menyerahkan uang Rp.3000 kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya:
cadel: "bang.., kembaliannya?"
abang: "oh iya, uang kamu Rp.3000, harganya Rp.2500, kembalinya berapa del?" sambil senyum ngeledek. Si cadel gugup juga untuk menjawabnya, dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi.
Tapi akhirnya dia menjawab:"...GOPEK!" Sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Atletik" Yang Menghina Perang


Tank Centurion di halaman berumput itu benar-benar terbalik. Turet, meriam, kubah dan senapan mesinnya “melesak” berhimpit dengan tanah sementara rantai baja yang biasanya kasar menggaruk tanah tengadah ke langit.
Mesin perang yang mengerikan itu sekarang tak lebih seperti kecoa raksasa yang lumpuh. Terbalik dan tak bisa menyelamatkan diri.
Jangan sekali-kali berpikir tank itu terbalik akibat kena rudal atau bom. Bukan sama sekali. Tank itu memang tidak sedang berperang di medan Libya atau Afghanistan.
Ia justru terbalik “manis” disebuah kota wisata yang tenteram damai, Venesia.  Dan tentu saja tank itu juga tidak sedang berperang, ia menjadi salah satu puluhan karya instalasi dalam Biennale Arte 2011di Venesia yang mulai dihelat kemarin, Sabtu (04/6).
Di atas rantai baja yang tak berdaya itu sebuah treadmill diletakkan bahkan lengkap dengan kemampuannya untuk menyehatkan. Dia benar-benar bisa bekerja sebagai treadmill.
Jelas-jelas Atletik karya Allora dan Calzadilla memberikan penghinaan paling keras terhadap nafsu berperang. Lebih menohok karena karena Atletik justru bertempat di paviliun Amerika.
Sebelumnya Atletik  pernah ditampilkan di Indianapolis Museum of Art dan kemudian dipilih untuk mewakili AS dalam Biennale Arte 2011di Venesia.
Allora dan Calzadilla berkolaborasi sebagai tim sejak tahun 1995. Karya mereka pernah tampil dalam pameran di seluruh dunia, termasuk Museum of Modern Art di New York, Serpentine Gallery di London, Stedelijk Museum di Amsterdam hingga Palais de Tokyon di Paris.
“Mereka intelektual ekstrim dan pekerjaan mereka selalu disasarkan pada konsep yang jelas,” kata Lisa Freiman, kurator senior di Indianapolis Museum of Art.
“Mereka benar-benar terikat pada warisan praktek avant-garde tetapi mereka menciptakan kembali dalam isu-isu penting hari ini, seperti keberlanjutan, lingkungan, tempat mendefinisikan individu, struktur kekuasaan pemahaman dan cara yang mereka mempengaruhi kehidupan kita,” tambahnya.
Freiman menyebut karya Allora dan Calzadilla selalu  membuka pintu untuk kontroversi potensial.
“Kami benar-benar jujur ​​tentang apa ingin kita lakukan. Selalu ada seruan penghakiman saya pikir, seni yang baik yang tidak doktriner tetapi rumit dan provokatif, yang merupakan bagian dari perlunya demokrasi yang bebas.”
Namun tampaknya ada fakta kecil yang silap. Tank Centurion  justru buatan Inggris.

Firman Utina, Maradona, Platini, dan Penalti


Socrates, Zico, Maradona, Baggio, Platini, dan Baresi juga pernah gagal mengeksekusi penalti. Firman Utina juga manusia.
Usai sudah pesta akbar sebak bola bagi bangsa-bangsa se Asia Tenggara digelar. Pada partai pamungkas di partai final leg kedua piala AFF 2010 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu, 29 Desember 2010, Indonesia memang menang 2-1 atas Malaysia.

Namun, hasil itu tidak membawa Indonesia jadi Jawara di Asean. Karena, kemenangan 3-0 bagi Malaysia saat menjamu Indonesia di Stadion Bukit Jalil pada leg pertama pada Rabu (26/12/2010) itulah yang menakdirkan Malaysia menjadi kampium piala AFF 2010.

Pasca kekalahan 3-0 dari Malaysia di leg pertama, arsitek timnas Indonesia Alfred Riedl mengatakan: “Peluang kita hanya 10 persen untuk menjadi juara Piala AFF.” Sebuah semangat  yang realistis dari seoarang pelatih. Sebab, Indonesia harus menang 4-0 jika ingin jadi jawara sepakbola se Asean.

Pukul 19.00 WIB, peluit babak pertama berbunyi.  Yel yel Indonesia, Indonesia, Indonesia memekakkan telinga. Setelah itu, lagu Garuda di Dadaku bikinan grup Band Netral secara kompak dinyanyikan oleh sekitar 95.000 penonton yang memadati SUGBK. Setiap kali Indonesia melakukan serangan ke pertahanan Malaysia, skuad Merah Putih selalu mendapat aplaus dari ribuan penonton.

Saya dan mungkin hampir seluruh penonton yang ada di dalam stadion berharap Timnas Indonesia dapat mencuri gol di 15 menit babak pertama, dengan harapan dapat mengangkat mental timnas untuk membuat gol selanjutnya.

Lima belas menit babak pertama sudah berlalu, asa untuk menjadi jawara di Asean sedikit demi sedikit mulai berkurang, karena Indonesia belum juga berhasil membuat gol.  Di menit ke 17, harapan itu kembali bangkit setelah wasit Peter Daniel Green asal Australia menunjuk titik putih di gawang Malaysia setelah Arif Suyono dijatuhkan oleh pemain belakang Malaysia di dalam kotak penalti.

Hampir semua penonton berdiri dan bertepuk tangan. Kembali yel yel Indonesia, Indonesia, Indonesia terdengar. Siapa yang akan jadi algojo? Semua penonton mungkin bertanya demikian. Semua berharap Bambang Pamungkas akan menjadi algojo, sayang Bepe masih duduk di bangku cadangan.

Coach Alfred Riedl mempercayai kapten timnas Indonesia Firman Utina untuk menjadi algojo penalti tersebut. Ketika Firman Utina mengambil ancang-ancang untuk menedang, ada penonton yang menutup matanya, membalikan tubuh ke belakang, serta ada yang berdoa.

Sepakan sang kapten timnas terlalu lemah ke arah kiri penjaga gawang Malaysia. Dengan mudah penjaga gawang Khairul Fahmi Bin Che Mat menangkap bola tersebut. Firman Utina gagal mengeksekusi penalti. Suasana menjadi hening sesaat. Setelah itu sumpah serapah yang di alamatkan ke Firman Utina terdengar. Kembali harapan untuk menjadi jawara sirna.

"Saya bertanggung jawab dan meminta maaf kepada suporter Indonesia karena gagal menendang penalti," kata Firman usai pertandingan.

Ya, Indonesia gagal jadi juara Asean oleh tendangan penalti yang tidak sempurna. Jika saja penalti itu berbuah gol, tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan membantai Malaysia lebih dari tiga gol, karena secara mental, Indonesia akan lebih unggul. Tapi, sudahlah semua sudah terjadi. Suporter Indonesia sudah memaafkan Firman Utina. Suporter Indonesia tidak anarkis. Suporter Indonesia sudah mulai belajar bersikap sportif.

Di dunia sepak bola,  kegagalan mengeksekusi penalti  tidak hanya menimpah Firman Utina saja. Pemain besar pun pernah juga gagal ketika jadi algojo penalti. Diego Maradona, Michael Platini, Socrates, Zico, Roberto Bagio, dan Franco Baresi juga pernah jadi pecundang ketika mengeksekusi penalti.

Di tahun 1986, di ferempat final Piala Dunia 1986, saat Brazil melawan Perancis, Michael Platini sempat membuat pendukung Perancis terdiam, karena Michael Platini gagal mengeksekusi penalti. Beruntung, kegagalan Platini  tidak menular ke pemain Perancis lainnya. Dan Perancis tetap menang dari Brasil dengan skor  4-3.

Di event yang sama. Socrates pemain Brasil juga gagal mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Perancis yang dijaga oleh kiper Joel Bats. Itu terjadi di partai perempat final Piala Dunia 1986. Dan Brasil gagal melangkah ke semi final, karena kalah dari Perancis dengan skor 4-3

Masih di Piala Dunia 1986. Zico, pemain Brasil gagal juga mengeksekusi penalti, tendangan Zico di mentahkan kiper Perancis, Joel Bats. Brasil kalah 4-3 dari Perancis.

Kemudian pada tahun 1990. Diego Maradona juga pernah jadi pecundang, gara-gara tendangan penaltinya di perempat final  Piala Dunia 1990 yang terlalu lemah dapat ditangkap oleh kiper Yugoslavia, Tomislav Ivkovic.

Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 1994. Brasil mangalahkan Italia di partai final dengan skor 3-2. Gara-garanya Roberto Bagio dan Franco Baresi gagal mengeksekusi penalti. Bola tendangan Bagio dan Baresi melambung jauh ke atas mistar penjaga gawang Brasil. Dan Brasil keluar sebagai Juara Piala Dunia 1994. Pemain bola juga manusia. (Mohamad Hidayat / Pemerhati Sepak Bola Nasional)

Perang-perangan Melawan Korupsi


Jangan sampai niat dan tekad presiden dalam perang melawan korupsi, dibaca publik hanya sebagai perang-perangan.
Kinerja pemberantasan korupsi yang semakin tidak meyakinkan mendorong  publik mempertanyakan efektivitas kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam perang melawan korupsi.
Dengan sisa waktu sekitar tiga tahun, publik pun mulai menggunjingkan apa yang akan dan bisa diwariskan (legacy) SBY dari satu dekade kepemimpinannya di republik ini?

Presiden RI pertama, Ir Soekarno, mewarisi nation building, sedangkan Presiden RI kedua, Soeharto, dikenang sebagai Bapak Pembangunan.
Lantas, apa yang layak dilihat sebagai warisan dari satu dekade kepemimpinan SBY di Indonesia? Pertanyaan ini mulai sering dikumandangkan para pemerhati.

Banyak kalangan kemudian teringat lagi akan komitmen presiden SBY pada awal kepemimpinannya di periode pertama. Presiden waktu itu berjanji akan memimpin langsung perang melawan korupsi di negara ini.
Pesan moral SBY itu direspons Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan sigap dan berani. Sejumlah oknum kepala daerah, oknum politisi hingga oknum penegak hukum berhasil dijerat, termasuk besan SBY sendiri, Aulia Pohan.
‘Serangan kilat’ KPK itu sempat membuat jera jajaran birokrasi. Bahkan, aksi KPK saat itu dituding sebagai penyebab munculnya fenomena keraguan banyak daerah memaksimalisasi pemanfaatan anggaran pembangunan. Banyak pejabat daerah ragu merealisasikan proyek karena takut dituduh korupsi oleh KPK.
Kinerja pemberantasan korupsi saat itu memang tampak sangat meyakinkan, sehingga amat pantas memberi acungan jempol kepada SBY karena sudah membuktikan komitmennya. Publik yang puas dengan kinerja pemberantasan korupsi saat itu mulai mengidentifikasi SBY presiden yang konsisten dengan sikap antikorupsi.

Namun, di awal periode kepemimpinannya yang kedua, konsistensi presiden tampak mulai meredup. Bukan hanya tak tegas, tetapi presiden pun sesekali tampak bimbang. Dalam kasus dugaan pemerasan yang melibatkan Wakil Ketua KPK, Bibit-Chandra, kehendak SBY tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh para pembantu presiden di bidang hukum. Akibatnya, kasus ini sempat menimbulkan polemik berkepanjangan.
Sedangkan dalam skandal Bank Century, SBY akhirnya mendorong Sri Mulyani Indrawati mundur dari jabatan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu-II dan terbang ke AS.
Kasus yang terakhir ini, bagaimana pun, mencerminkan kebimbangan SBY dalam menyikapi mega skandal itu.
Setelah itu, satu demi satu masalah bermunculan mengganggu SBY, dan publik  menuntut ketegasan sikapnya. Dimulai dari keragu-raguan dalam melaksanakan proses hukum skandal Bank Century, mafia pajak, hingga kasus terakhir yang melibatkan kader Partai Demokrat (PD), M Nazaruddin.
Pada proses hukum skandal Century dan Mafia pajak, publik membaca kecenderungan ambivalensi SBY. Memang, dalam pernyataannya, SBY tampak sungguh-sungguh ingin menuntaskan dua kasus besar itu. Tetapi pada saat bersamaan dia, seperti membiarkan saja sikap setengah hati para penegak hukum.
Publik melihat ada yang aneh, karena kehendak presiden tidak otomatis bertransmisi langsung pada kebijakan dan keputusan para pembantunya. Akibatnya, muncul penilaian publik bahwa presiden dan para pembantunya sedang memainkan sandiwara penegakan hukum.
Tak juga perlu ditutup-tutupi bahwa posisi dan status Nazaruddin saat ini amat mengganggu citra SBY. Ketika para kader PD tidak satu kata dalam menyikapi kasus Nazaruddin, publik mempertanyakan peran dan kewenangan SBY sebagai ketua Dewan Pembina PD.
Kepergian Nazaruddin ke Singapura satu hari sebelum pencekalannya menambah runyam posisi SBY dan PD. Ketika Nazaruddin dan istrinya tidak bisa memenuhi panggilan KPK pada Jumat (10/6) lalu, PD ikut disalahkan. Bagaimana pun, menyalahkan PD berarti mengecam SBY.
Maka, apakah SBY masih memimpin perang melawan korupsi? Itulah pertanyaan bernada sinis yang mulai bermunculan di ruang publik, menyusul kepergian Nazaruddin ke Singapura dan ketidakhadiran yang bersangkutan untuk memenuhi panggilan KPK.
SBY berusaha menjawab pertanyaan itu dengan mengungkap kasus lain yang melibatkan Nazaruddin, melalui forum jumpa pers bersama Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Namun, manuver itu belum cukup untuk meyakinkan publik serta memulihkan citra, terutama karena ketidakjelasan status hukum Nazaruddin saat itu.
Kemauan Politik

Publik pun akhirnya membuat kesimpulannya sendiri. SBY dinilai tidak mampu mengendalikan kader PD untuk membantu proses penegakan hukum dan memerangi korupsi. Permintaannya agar Nazaruddin segera dibawa kembali ke Jakarta terbukti belum dilaksanakan.
Kalau tidak efektif mengendalikan kadernya sendiri, boleh jadi efektivitas kepemimpinan SBY memerangi korupsi pun sudah menurun.
Karena itu, jangan heran jika proses hukum skandal Bank Century pun tidak berkepastian. Dalam rapat dengan Timwas (Tim Pengawas) DPR untuk proses hukum Skandal Bank Century di DPR baru-baru ini, Ketua KPK Busyro Muqqodas menyatakan bahwa KPK hingga kini belum menemukan bukti-bukti yang mengindikasikan terjadinya tindak pidana korupsi (Tipikor) pada kebijakan bailout Bank Century.
Ambivalensi pun amat kentara jika kita memperbandingkan posisi yang diambil presiden dalam kasus Bank Century-Mafia Pajak dengan posisi presiden dalam kasus Nazaruddin.
Dalam kasus Bank Century-mafia pajak, presiden terlihat dalam posisi bertahan. Tetapi dalam kasus Nazaruddin, presiden nyata-nyata ikut memojokan Kader PD itu. Kehendak SBY itu bisa dibaca dengan jelas oleh KPK, yang kemudian dengan sigap meminta pencekalan Nazaruddin, serta langsung  menjadualkan pemeriksaan Nazaruddin dan istrinya, Neneng Sri Wahyuni. Kecenderungan ini sudah barang tentu mendorong publik membuat aneka tafsir.
Sebaliknya, entah bagaimana para penegak hukum membaca atau menafsirkan kehendak presiden, tetapi kita semua bisa melihat dengan jelas bahwa proses hukum skandal Bank Century dan Mafia pajak tidak mencatat progres yang signifikan.
Kalau  dalam persidangan kasus Antasari Azhar majelis hakimnya diduga mengabaikan sejumlah bukti, dalam kasus Bank Century dan mafia pajak, kita menduga penegak hukum pun mengabaikan sejumlah bukti.
Dari pengabaian itu, mereka kemudian mengatakan belum ada bukti kuat untuk memeriksa orang-orang penting yang diduga terlibat dalam dua kasus besar itu. Tragisnya, presiden seperti membiarkan saja dua kasus besar itu diambangkan proses hukumnya oleh penegak hukum.
Presiden memang telah mengeluarkan 12 instruksi untuk merespons kasus mafia pajak, tetapi semua instruksi itu hanya fokus pada kasus Gayus Tambunan. Padahal, skala kejahatan mafia pajak tidak terbatas pada apa yang dilakukan Gayus.
Apalagi, publik sudah paham bahwa Gayus bekerja berdasarkan kendali para atasannya. Karena itu, dalam memerangi mafia pajak, publik menghendaki agar semua nama yang terindikasi terlibat penggelapan pajak dimintai pertanggungjawabannya melalui proses hukum.
Akhirnya, publik sampai pada pertanyaan tentang kemauan politik presiden dalam pemberantasan korupsi. Kalau kemauan politik presiden dalam konteks itu sudah dipertanyakan, latarbelakangannya pastilah ketidakyakinan umum. Benar bahwa presiden telah beberapa kali membuat penegasan ulang tentang kepemimpinannya dalam memerangi korupsi di negara ini.
Tetapi, pernyataan saja tidak cukup. Kemauan politik presiden itu harus nyata dan tak boleh direduksi oleh perilaku inkonsisten. Ketika mengumumkan 12 instruksi untuk merespons kasus mafia pajak, banyak kalangan kecewa dan mempertanyakan mengapa pengawalan 12 instruksi itu dilimpahkan kepada Wakil Presiden?
Mengingat masalahnya demikian serius, mengapa tidak presiden sendiri yang mengawal dan mengawasi pelaksanaan 12 instruksi itu?
Pekan lalu, ketika publik terus bergunjing tentang  kemampuan KPK dan PD membawa Nazaruddin kembali ke Jakarta, presiden malah memberi tanggapan tentang isu Capres 2014. Terlalu jauh dari konteks persoalan yang tengah menjadi keprihatinan publik. Elegan jika presiden menyinggung kinerja atau kepemimpinannya dalam memerangi korupsi.
Relevan untuk menyinggung hal itu, karena pada saat yang sama PD yang dibinanya sedang dihujani kecaman. Rupanya, presiden merasa tidak perlu menanggapi hal itu. Esoknya, Nazaruddin dan Istrinya memang belum bisa memenuhi panggilan KPK.
Mudah-mudahan, kasus Nazaruddin bisa dituntaskan agar tidak menambah panjang daftar kegagalan para pembantu presiden di bidang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Pun, jangan sampai diambangkan lagi sebagai warisan. Sehingga niat dan tekad presiden dalam perang melawan korupsi, dibaca publik hanya sebagai perang-perangan.
Bambang Soesatyo Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar

Djohar Tegaskan Peleburan ISL-LPI


Mayoritas klub professional dengan lantang menolak penggabungan kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer Indonesia. Alasannya  jelas, klub-klub LPI hampir seluruhnya belum menjadi anggota PSSI dan mereka baru "kemarin sore" berdiri.

Tapi itu sepertinya tidak menyurutkan niat pengurus baru PSSI untuk melebur dua kompetisi yang "beda kelas" itu. Kepada wartawan kemarin sore di kantor PSSI, Djohar Arifin Ketum PSSI menegaskan jika ISL dan LPI tetap akan dilebur.

Djohar beralasan, keputusan itu ditempuh untuk membantu klub-klub ISL yang sudah tidak lagi disokong APBD mulai musim depan. "Hal itu sudah dibicarakan dengan konsorsium. LPI dan ISL akan melebur, klub-klub LPI akan merger dengan klub ISL. Jadi, nanti kompetisinya diikuti eks ISL dan eks LPI," kata Djohar.

Mantan staf ahli Mempora ini yakin rencana itu akan bisa dilaksanakan karena mayoritas klub pasti akan kesulitan dengan dihentikannya APBD. "Masa sih ada yang lagi kelaparan tidak mau menerima bantuan makanan dan minuman yang diberikan," lanjut Djohar yang mengumpamakan klub-klub ISL seperti pihak yang kelaparan karena tidak akan lagi menerima bantuan APBD.  

Sementara itu, kemarin proses asistensi terhadap klub-klub yang berniat mengikuti kompetisi mulai dilakukan. Untuk tahap pertama, yaitu wilayah Jakarta dan sekitarnya dilakukan di kantor PSSI dan diikuti 16 klub peserta. "Dalam asitensi ini kami jelaskan apa-apa saja yang harus dipenuhi klub. Tadi yang paling banyak ditanyakan peserta adalah soal deposit partisipasi dan badan hukum," kata Sihar Sitorus, anggota EXco yang juga ketua komite kompetisi PSSI.   

Setelah Jakarta, asistensi akan dilangsungkan di Medan (12/8), Yogyakarta, (15/6),  Surabaya ( 15/8), dan Makassar ( 15/8). 
   
Saat ini PSSI tengah berburu dengan waktu untuk "memilih" klub-klub yang akan mengikuti kompetisi yang akan dimulai pada 8 Oktober mendatang. Itu sesuai dengan instruksi dari AFC yang memberikan deadline pada PSSI maksimal 14 Oktober.

Bagi klub-klub yang berniat mengikuti kompetisi harus menyarahkan dokumen kelengkapan maksimal pada 22 Agustus. Dokumen-dokumen tersebut bakal diverifikasi pada 23 Agustus. "Dan pada 25 Agustus PSSI akan mengumumkan klub-klub mana saja yang akan ikut serta dalam kompetisi profesional liga Indonesia," beber Sihar.